DENGAN MEMILIKI WAWASAN DAN SEDIKIT BIMBINGAN
PRAKTIS,BAHKAN ORANG YANG PALING PEMALU SEKALIPUN
BISA MENCAPAI TINGKAT BARU DALAM HAL PERILAKU
PERCAYA DIRI.
PRAKTIS,BAHKAN ORANG YANG PALING PEMALU SEKALIPUN
BISA MENCAPAI TINGKAT BARU DALAM HAL PERILAKU
PERCAYA DIRI.
”TERIMA kasih atas kedatangan Anda,”kata Elizabeth kepada
salesman dari rumah ke rumah.”Tapi sayang tidak memerlukan apaapa
hari ini,jadi saya tidak ingin membuang-buang waktu Anda untuk
melihat-lihat sampel,”
”Saya yakin saya giliran berikutnya,”kata Alice dengan tegas kepada
karyawan di sebuh toko yang penuh sesak.
Tidak lama setelah bersama suaminya pindah ke suatu kota,Nancy
pergi ke rumah sebelah dan memperkenalkan diri.
”Saya begitu bahagia bertemu denganmu!”kata tetangganya yang
sangat gembira.”Saya sendiri orang baru,dan belum kenal dengan
seorang pun!”
Tindakan-tindakan seperti itu dilakukan secara wajar oleh beberapa
orang—tetapi bagi Elizabeth,Alice dan Nancy tindakan ini merupakan
kemenangan yang sesungguhnya.
Setelah betahun-tahun bersikap pasif,mereka mulai menampilkan
diri.Mereka melakukannya dengan bantuan latihan menampilkan
diri—kursus yang memberi mereka tuntunan praktis dalam
menyatakan perasaan,keinginan dan keperluan mereka.
Elizabeth adalah tipe orang yang berperilau penuh pemintaan
maaf,mengawali komentarnya dengan kata-kata”Seharusnya saya
tidak boleh mengatakan ini...
”Seperti banyak orang,dia sudah belajar menyembunyikan pikirannya
yang sesungguhnya.Kalau ditanya,”Bagaimana keadaanmu?”dia
selalu menjawab,”Baik.
”Kalau suaminya menyarankan untuk melewatkan liburan seminggu
untuk main ski,dia mengatakan,”Senang sekali,”padahal dia lebih
suka melewatkan liburan dengan kegiatan lainnya.
Dia segera menuruti kemauan anak-anaknya yang kurang
semestinya.Pada kenyataannya,dia mulai berpikir bahwa
kebutuhannya sendiri tidak penting.
Tetapi sekarang dia sudah berhenti menganggap dirinya sebagai
keset belaka;dia merasa lebih percaya diri,lebih santai—dan jauh
lebih berharga.”Aku merasa seperti orang yang baru sama
sekali,”katanya.Dan dia menyadari bahwa itu berkat latihan
menampilkan diri.
Kursus yang secara khusus melatih orang agar berani menyatakan
pendapatnya menjadi populer di pusat-pusat pendidikan orang
dewasa di mana-mana.
Ini merupakan penerapan baru terapi modifikasi peri laku.Salah satu
kursus serupa ini,yang diselenggarakan di Universitas Stanford
maupun di Foothill College di California,dipimpin oleh Sharon
Bower,pengarang buku petunjuk latihan berjudul”Learning Assertive
Behavior with PALS”.
Dalam kursus ini,kelompok orang-orang yang”pasif”belajar bahwa
mereka punya hak untuk meminta apa saja,termasuk perubahan
yang masuk akal dalam peri laku orang lain.
Peri laku berani menampilkan diri sendiri termasuk berani
menyatakan perasaan yang positif maupun yang negatif.Ketika
diminta mendaftar beberapa peristiwa ketika dia berani menampilkan
dirinya,Elizabeth menulis:”Saya berbuat demikian ketika mengatakan
kepada sahabat saya Linda bahwa dia menyakiti perasaan
saya;ketika saya mengatakan kepada anak laki-laki saya betapa jauh
lebih rapi kamarnya kelihatan minggu yang lalu;ketika saya
mengatakan lebih baik saya menulis alamat pada amplop daripada
pergi dari rumah ke rumah dengan membawa petisi taman kota.
”Kemudian para peserta kursus diminta untuk mendaftar beberapa
situasi ketika mereka menyembunyikan perasaannya atau tidak
berani menggunakan hak-haknya,dan akibatnya kehilangan sesuatu.
Daftar ini ternyata memaparkan banyak hal.Segera terlihat bagi
semua orang bahwa mereka menapilkan diri ketika mereka merasa
santai,yakin dan bisa mengedalikan keadaan—tetapi mempunyai
kesulitan untuk berbuat begitu dalam situasi ketika mereka merasa
gelisah atau terancam.
Dari daftarnya,setiap peserta memilih satu situasi yang paling
menggelisahkan untuk dibahas kelak,Elizabeth memilih salesman
keliling yang suka mendesak,yang telah menjual kepadanya banyak
barang yang tidak diperlukan.
Langkah pertama adalah menaklukan rasa takut yang mencegah
orang untuk menyatakan pendapatnya.Pikiran sering menimbulkan
hal-hal negatif seperti,”Aku akan jatuh pingsan kalau harus
mengucapkan pidato.
”Para peserta di kelas disuruh menganalisis reaksi seperti itu.Apakah
bayangan yang mengerikan itu merupakan kemungkinan yang bisa
terjadi,atau hanya rasa takut yang tidak rasional?Kalau yang benar
adalah yang belakangan,Anda bisa belajar untuk mengatasinya.
Dengan mengikuti instruksi,Elizabeth belajar di rumah untuk
mencapai keadaan santai sepenuhnya—karena ketegangan otot dan
pikiran negatif saling membantu untuk menciptakan
kegelisahan.Kemudian dia membayangka dirinya mengatakan
kepada si salesman bahwa dia tidak ingin melihat contoh barangbarangnya.
Dia berusaha memperhitungkan reaksi si salesman.Mungkin orang
ini akan terkejut,pikir Elizabeth.Bahkan mungkin salesman ini akan
mengucapkan kata-kata yang kasar atau penuh kebencian.
Tetapi,pada kenyataannya,dia tidak akan ”malu setengah mati,”atau
si salesman akan mengigitnya.Elizabeth memastikan bahwa imbalan
untuk sikapnya yang berani menyatakan pendapat akan jauh
melampaui rasa kurang senang yang tidak seberapa.
Berikutnya,para peserta kursur melatih peri laku yang direncanakan
dalam kelas.Elizabeth berlatih mengatakan,”Terimah kasih,tapi saya
tidak memerlukan apa-apa hari ini.
”Seorang tema sekelas,berperan sebagai salesman,tetap masuk dan
menghamparkan barang dagangannya.”Kau mengucapkan kata-kata
yang benar,”seorang peserta mengatakan kepada Elizabeth,”tapi kau
tidak kedengaran bersungguh-sungguh.”
Mereka menyarankan agar Elizabeth bicara lebih tegas,berdiri lebih
tegap,dan melihat langsung ke mata si salesman.Dia segera bisa
menguasai adegan ini dengan sempurna—dan kemudian
memainkannya secara sukses dengan salesma yang sesungguhnya.
Aturan pokoknya adalah:Begitu Anda mulai menampilkan diri,jangan
mundur lagi.Pernyataan yang setengah-tengah bisa menimbulkan
kebencian,tanggapan yang agresif,dan kalau Anda panik melihat
tanda-tanda pertama perlawanan,Anda harus meningkatkan
kekuatan.
Maka penting sekali untuk mempertimbangkan sebelumnya
kemungkinan reaksi orang lain,dan bersiap-siap menghadapinya.
Para peserta kursus diberi dorongan untuk menuliskan kata-kata
yang direncanakan untuk diucapkan dalam situasi yang sulit—sama
seperti kalau mereka menulis naskah sandiwara.”Bagaimanapun juga
kita sudah banyak menulis skenario,”kata Sharon Bower.”Hanya kita
menulisnya dalam kepala kita sesudahnya,berpikir,”Kalau saja tadi
aku mengatakan...’Lain kali,mengapa tidak menulis saja kalimat yang
bagus?Mungkin Anda akan menghadapi lagi situasi yang serupa—
dan dengan cara itu Anda sudah siap menghadapinya.”
Penting sekali untuk mengetahui apa yang ingin Anda lakukan,bukan
hanya bereaksi terhadap orang lain.Penulisan skenario membantu
Anda mengambil prakarsa dengan memaksa Anda berpikir secara
spesifik tentang apa yang bisa Anda katakan untuk mencapai suatu
maksud.
Elizabeth,misalnya,enggan menyatakan pendapatnya kepada
suaminya karena takut jangan-jangan suaminya marah.Dia
memutuskan untuk menulis skenario sebagai petunjuk untuk
membicarakan peristiwa yang melibatkan suaminya,dirinya
sendiri,dan anak perempuannya yang berumur sepuluh tahun.
Dengan mengikuti bentuk spesifik yang dikembangkan oleh
gurunya,skenario ini mempunyai empat langkah dasar,yang disebut
DESC:Describe,Express,Specify,Consequences,atau
memerikan,menyatakan,memastikan,dan akibat yang bisa timbul.
1.Perikan peri laku secara obyektif.Elizabeth menulis:”Pada sore
hari itu,ketika hujan turun,Lisa terus bertanya kepadaku apakah kami
akan pergi berkemah keesokan harinya dan mengajak temannya
Amy serta.Saya mengatakan mudah-mudahan bisa,tetapi Lisa terus
merengek-rengek.
Kemudian kau mengatakan kepada Lisa,dengan suara keras
sekali,bahwa dia tidak pantas pergi berkemah karena dia tidak
pernah melakukan apa pun di sana selain mengeluh.Lisa
meninggalkan kamar dengan mengucurkan air mata,dan temannya
pulang dengan rasa malu.”
2.Nyatakan Perasaan Anda mengenai peri laku tersebut.”Saya
juga merasa terganggu oleh perilaku Lisa,”Elizabeth menulis.”Saya
merasa secara curang dia menekan saya untuk sebuah jawaban
yang tidak bisa saya berikan.Tetapi saya rasa kau tidak adil
kepadanya dengan membentaknya di hadapan temannya.”
3.Pastikan apa yang Anda inginkan,dan mintalah
persetujuan.Elizabeth menulis:”Saya ingin kau tidak bicara kepada
Lisa dengan cara seperti itu di muka orang lain.Saya ingin kau
menunggu sampai kemarahanmu reda dan kau dengan Lisan hanya
berdua saja.”
4.Tetapkan apa akibatnya memenuhi atau tidak memenuhi
persetujuan.Elizabeth menulis:”Kalau berurusan dengan Lisa secara
lebih tenang,dengan senang hati saya akan mendukung sikapmu
dalam menerapkan disiplin.Kalau kau terus mempermalukannya,saya
juga akan terus merasa sulit untuk mendukung pendiriannmu.”
Ketika Elizabeth memainkan adegan ini dengan
suaminya,suaminya menanggapi dengan pandangannya sendiri
terhadap situasi tersebut:”Lisa terus-menerus minta jawaban
kepadamu,tetapi kau selalu mengecewakannya dengan jawaban
samar-samar seperti’mudah-mudahan’dan ’barangkali’.
Saya jadi marah mendengar dia merengek-rengek kepadamu,tetapi
saya merasa lebih terganggu karena karena kau bersikap tidak tegas
kepadanya.Di situlah saya meledak,saya rasa.Lain kali,mungkin kau
bisa mengatakan kepadanya,’Saya tidak tahu apakah hujan akan
berhenti pada waktunya sehingga kita bisa pergi berkemah.
Kalau besok pagi cuaca cerah dan tidak ada ramalan badai akan
datang,kita akan pergi.Tapi kalau kau terus merengek-rengek,saya
jadi tidak ingin pergi sama sekali.”
Dengan menggunakan skenario untuk membuka sebuah
diskusi,Elizabeth bukan hanya menampilkan dirinya sendiri;dia juga
mempelajari sesuatu tentang bagaimana perilakunya sendiri
mempengaruhi orang lain— dan bagaimana dia akan mengubahnya
secara konstruktif.
Persetujuan yang dihasilkan telah meredakan pertikaian antara
Elizabeth dan suaminya,dan membantu mereka berdua dalam
berurusan dengan anak-anaknya secara efektif.
Skenario DESC adalah untuk situasi sulit yang bisa di
perhitungkan.Untuk kesempatan ketika Anda bisa menggunakan
kalimat yang bagus tetapi tidak bisa memikirkannya.
Sharon Bower menyarankan beberapa jawaban cadangan.Banyak
pertanyaan yang sulit,misalnya,bisa dijawab dengan,”Saya tidak bisa
menjawab itu sekarang.beri saya waktu sampai nanti malam untuk
memikirkannya.”Itu akan memberi Anda kesempatan untuk
memikirkan alternatif dan mempersiapkan jawaban yang cukup
memadai.
Banyak orang merasa sangat sulit mengatakan pendapat kepada
tokoh terkemuka—majikan,guru,orang tua.Jill,misalnya,telah gagal
meminta dokternya membalas meneleponnya untuk membicarakan
perincian yang membingungkan dalam pengobatan yang
diberikannya.Akhirnya,dengan menggunakan empat langkah DESC
sebagai petunjuk,dia menulis:
”Saya sudah berusaha menghubungi Anda dengan telepon selama
tiga hari.Saya merasa ini persoalan yang gawat.Saya ingin Anda
segera menghubungi saya.Kalau tidak,saya akan
mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan
dokter lain.”
Dokter ini meneleponnya pada keesokan harinya—dan sejak itu
memberikan perhatian lebih banyak dalam perawatan yang
diberikannya.Jill masih menganggap konfrontasi berhadapan muka
sebagai hal yang berat.”Tapi saya bisa menulis surat yang
baik,”katanya,”dan saya belajar menggunakannya denga berani
untuk menyatakan pendapat.”
Yang paling mengesankan dari latihan menampilkan diri ini adalah
bahwa hal itu berasil.Tetapi ada satu hal yang perlu diingat-ingat:peri
lau berani menyatakan pendapat tidak sama dengan sikap agresif.
Berani menyatakan pendapat punya sasaran menyeimbangkan
kekuatan sosial—untuk memecahkan masalah bersama dengan
negosiasi.Sedangkan sikap agresi adalah senjata untuk menghadapi
pertempuran;sikap berani menyatakan pendapat adalah sebuah
ketrampilan,yang kalau dipraktekkan dengan efektif,bisa menolong
semua orang yang ikut terlibat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar