PERFEKSIONISME YANG KETERLALUAN BENAR-BENAR
BISA MEMEROSOTKAN KEMAMPUAN DAN MENGHAMBAT
KEBERHASILAN.SEORANG PSIKIATER MEMAPARKAN
BAGAIMANA CARANYA MENGATASI KEBIASAAN YANG
MERUGIKAN DIRI SENDIRI INI.
SEBAGAI bagian sebuah studi tentang produktivitas dan
kesehatan emosional,belum lama ini saya mengajukan rangkaian
pertanyaaan kepada satu kelompok tes terdiri dari 150 orang
salesmen dengan pendapatan tahunan yang berkisar dari $10.000
sampai $150.000.
Kira-kira sebanyak 40 persen dari mereka terbukti merupakan
kaum perfeksionis.bisa di duga,kelompok ini merasa berada di
bawah stress yang lebih besar daripada sesamanya yang bukan
perfeksionis.
Apakah mereka juga lebih berhasil?Sungguh
mengherankan,jawabannya adalah tidak,Sementara kaum
perfeksionis mengalami jauh lebih banyak kegelisahan dan tekanan
jiwa dalam hidup mereka,sedikit pun tidak ada bukti bahwa
mereka memperoleh uang lebih banyak.
Pada kenyataannya,rasa putus asa dan tekanan yang kerap kali
menganggu kaum perfeksionis bisa menyebabkan merosotnya
kreativitas dan produktivitas.
Sebuah penelitian oleh ahli-ahli psikologi di Universitas Negara
bagian Pennsylvania menemukan bahwa para atlet yang memenuhi
syarat untuk menjadi peserta Olimpiade kurang bernafsu
menetapkan standar perfeksionis kalau dibandingkan dengan
mereka yang gagal.
Para atlet yang berhasil cenderung tidak menganggap penting
kegagalan prestasi mereka di masa lalu,sementara lain-lainnya
lebih memacu diri sendiri sampai ke tingkat hampir panic dalam
pertandingan.
Apa yang saya maksudkan dengan perfeksionisme?Saya tidak
bicara tentang pengejaran secara sehat terhadap prestasi
memuaskan oleh orang-orang yang suka menikmati standar yang
tinggi.
Tanpa mengindahkan kualitas,keberhasilan yang sesungguhnya
akan merupakan barang langka.Kaum perfeksionis adalah orangorang
yang berusaha mati-matian mencapai sasaran kesempurnaan
yang mustahil,dan mengukur nilai diri mereka hanya mengikuti
keberhasilan mereka saja.
Akibatnya,mereka merasa ngeri menghadapi kemungkinan
gagal.Mereka merasa dikejar-kejar,dan pada saat yang sama tidak
merasa mendapat imbalan dari hasil yang mereka capai.
Seorang guru besar sejarah yang merasa tertekan secara kronis
belum lama ini mengatakan kepada saya,”Tanpa perfeksionis yang
saya miliki,saya hanya merupakan seorang yang setengah
matang.Uh! Siapa yang ingin menjadi orang kebanyakan?”Orang
ini melihat perfeksionisme yang dipegangnya erat-erat sebagai
harga yang harus dibayarnya untuk mencapai sukses.
Dia merasa yakin standarnya yang tak kenal ampun memacunya ke
tingkat nilai tinggi yang tidak dapat dicapainya dengan cara
lain.Padahal kenyataannya di dibuat begitu tidak berdaya oleh rasa
takut gagal sehingga produktivitasnya jauh di bawah yang
dihasilkan oleh rekan-rekannya.
Pernyataan bahwa kaum perfeksionis akan bisa berhasil walaupun
mereka menetapkan standar yang tinggi,bukan karena hal itu,mulamula
dianggap oleh kebanyakan perfeksionis sebagai hal yang
tidak realistis.
Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa perfeksionisme yang
keterlaluan bukan hanya tidak sehat,menimbulkan kekacauan jiwa
seperti merasa tertekan,kegelisahan dan stres,tetapi juga merugikan
diri sendiri,dalam hal produktivitas,hubungan pribadi dan penilaian
diri sendiri.
Kita perlu meninjau mengapa kaum perfeksionis bagitu rentan
terhadap kekalutan emosi dan cacatnya produktivitas.Salah satu
alasannya adalah karena kaum perfeksionis memikirkan kehidupan
dengan sikap yang tidak logis dan salah bentuk.
Barangkali distorsi (salah bentuk) yang umum terdapat di kalangan
kaum perfeksionis adalah cara berpikir semua atau tidak sama
sekali.
Seorang mahasiswa A yang dikalahkan oleh B dalam ujian
menyamakannya dengan kegagalan.Cara berpikir ini
menyebabkan dan bereaksi yang melampaui batas terhadap
ketakutannya ini.
Distorsi umum lainnya adalah keyakinan bahwa peristiwa negatif
akan terulang tak ada habis-habisnya:”Saya tidak akan bisa
melakukan ini dengan benar.
”Dan bukannya bertanya kepada diri sendiri bagaimana dia bisa
belajar dari kesalahan,kaum perfeksionis menyesali diri
sendiri:”Seharusnya aku tidak bertindak setolol itu!Aku tidak
boleh”ini menciptakan frustasi dan rasa bersalah,yang ironisnya
menyebabkan dia terpaku pada kesalahan tersebut.
Dia terjebak dalam apa yang disebut oleh professor Universitas
Negara Bagian Pennsylvania,Michael Mahoney,sebagai sindroma
“Orang Kudus atau Pendosa”
Sindroma ini bekerja sebagai berikut:jika seorang perfeksionis
memulai,katakanlah suatu diet,dia mengatakan kepada diri sendiri
bahwa dia harus menjalani diet ini atau tidak sama sekali,yang
diperikannya dalam pengertian yang sangat ketat.
Selama dia menjalani diet,dia merasa bahagia.Inilah periode
“orang kudus”.Pertama kalinya dia gagal mengikuti ketentuan
rutin,kemungkinan untuk diet secara sempurna pun hilang;ini
menyebabkan dimulainya periode “dosa”.
Sebagai contoh,kalau pelaku diet makan satu sendok,kemudian dia
menjadi kalut oleh bukti “kegagalan”ini sehingga dia lalu
memakan eskrim semangkuk penuh!
Akhirnya,ternyata banyak perfeksionis dirongrong oleh rasa
kesepian dan gangguan dalam hubungan pribadi.Karena kaum
perfeksionis takut dan memperkirakan penolakan kalau mereka
dinilai tidak sempurna,mereka cenderung untuk bereaksi secara
defensif terhadap kritik dan juga dia suka menilai dan melontarkan
kritik kepada orang lain.Ini biasanya menimbulkan frustasi dan
menyebabkan timbulnya kebencian,dan semakin menambah rasa
takut kaum perfeksionis.
Untuk membantu kaum perfeksionis mengatasi kebiasaan mental
ini,saya mula-mula meminta mereka mendatar keuntungan dan
kerugian usaha untuk menjadi sempurna.Seorang mahasiswa
hokum yang dating minta bantuan kepada saya hanya bisa
mencatat satu keuntungan:”Kadang-kadang itu bisa menghasilkan
kerja yang bagus.”
Kemudian dia mendaftar enam kerugian perfeksionise:”
Satu,itu membuat saya tegang dan gelisah sehingga kadangkadang
bahkan tidak bisa menghasilkan pekerjaan yang sekedar
cukup memadai sekalipun.
Dua,saya sering tidak berani menghadapi risiko yang perlu untuk
menghasilkan karya yang kreatif.
Tiga,itu menghalangi saya mencoba hal-hal baru.
Empat,itu membuat saya suka mencela.diri sendiri dan
menyebabkan saya tidak bisa menikmati kegembiraan hidup.
Lima,saya tidak pernah bisa santai karena saya selalu menemukan
sesuatu yang tidak pernah sempurna.
Enam,ini membuat saya tidak toleran kepada orang lain,dan
akhirnya saya dicap sebagai pencari kesalahan.”
Berdasarkan analisis untung-rugi ini,dia menyimpulkan bahwa
hidup mungkin akan memberi lebih banyak imbalan ada lebih
produktif tanpa perfeksionisme yang dimilikinya.
Juga akan menolong kalau kita hanya mengincar hasil yang
”baik”,bukan yang ”terbaik”.Reaksi yang khas adalah rasa
tebal.Tetapi kemudian saya menjelaskan bahwa karena prestasi
”terbaik”seseorang dalam kegiatan apa pun hanya bisa diraih satu
kali seumur hidup,mengincar hasil terbaik sepanjang waktu bisa
dijamin akan mendatangkan kegagalan.
Sebaliknya,jika sasaran Anda realistis,Anda kerap kali akan
merasa lebih kreatif dan produktif.Saya tidak menyarankan agar
Anda bermalas-malas,tetapi Anda akan mendapatkan bahwa Anda
akan memperoleh hasil yang bagus dengan prestasi yang cukup
baik,bukannya mengincar masterpiece yang menimbulkan stres.
Strategi ini terbukti bermanfaat bagi saya ketika saya menulis
untuk jurnal pendidikan dan terhalang oleh hambatan
penulisan.”Ini harus jadi hasil karya yang menonjol,”kaya saya
kepada diri sendiri setiap kali duduk untuk menyiapkan
konsep.Kemudian saya bersusah payah menyusun kalimat pertama
sampai akhirnya menyerah dengan rasa sebal.
Tetapi ketika saya mengatakan kepada diri sendiri,”Saya akan
membuat konsep asal-asalan saja,”ternyata hambatan berkurang
dan hasil yang saya capai jauh lebih baik.
Lebih dari itu,saya terkejut oleh kenyataan bahwa kualitas
penulisan saya meningkat setelah saya tidak berusaha terlalu keras
untuk membuat kagum orang lain.
Jika Anda seorang perfeksionis yang keterlaluan,tidak diragukan
lagi Anda pasti hebat dalam hal memusatkan perhatian terhadap
kekurangan-kekurangan Anda.
Anda melewatkan hidup Anda dengan mendaftar semua kesalahan
dan kekurangan Anda.Inilah cara sederhana yang bisa membantu
Anda membalik kecenderungan yang menyakitkan ini.Daftarlah
hal-hal yang Anda lakukan secara benar setiap hari.
Lihat berapa banyak nilai yang Anda kumpulkan.Mungkin ini
kedengaran begitu kuno sehingga Anda yakin ini tidak bisa
membantu Anda.
Jika demikian,lakukanlah eksperimen ini selama dua minggu.Saya
meramalkan Anda akan mendapatkan bahwa Anda akan mulai
lebih banyak memusatkan perhatian pada segi positif dalam hidup
Anda dan akibatnya akan merasa lebih baik mengenai diri Anda.
Cara lain yang menolong melibatkan pemaparan absurditas dalam
cara pemikiran semua atau tidak sama sekali,yang meningkatkan
perfeksionisme Anda,Lihatlah berkeliling dan tanyakan kepada diri
sendiri berapa banyak hal di dunia ini yang bisa dipecah-pecah
dalam kategori semua atau tidak sama sekali.
Apakah dinding di sekitar Anda bersih seratus persen?Ataukah
dinding itu punya sedikit kotoran?Apakah bintang film kesayangan
Anda sempurna kecantikannya?Apakah Anda kenal dengan
seseorang yang benar-benar tenang dan percaya diri sepanjang
waktu?Segala-galanya bisa ditingkatkan kalau Anda melihatnya
dengan pandangan cukup kritis – setiap orang,setiap gagasan,setiap
karya seni,setiap pengalaman.Jadi belajarlah mengenali cara
berpikir ”semua atau tidak sama sekali”seperti apa adanya:sikap
yang merugikan diri sendiri dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Akhirnya,Anda bisa memerangi perfeksionisme dengan bertanya
kepada diri sendiri,”Apa yang bisa saya pelajari dari kesalahan
saya?”Sebagai eksperimen,pikirkanlah suatu kesalahan yang telah
Anda buat dan tuliskan segala hal yang dapat Anda pelajari dari
kesalahan itu.
Jangan lepaskan hak Anda untuk berbuat kesalahan,sebab kalau
demikian Anda akan kehilangan kemampuan untuk mempelajari
hal-hal baru dan mendapat kemajuan dalam hidup.
Jangan lupa bahwa rasa takut selalu bersembunyi di belakang
perfeksionisme.Bagaimanapun juga ada harga yang harus dibayar
dalam berusaha mencapai kesempurnaan;ini melindungi Anda dari
keharusan menghadapi risiko kena kritik,kegagalan atau tidak
mendapatkan persetujuan.
Tetapi hal ini juga menghalangi hidup secara lebih
penuh.Menghadapi rasa takut dan memberi Anda hak untuk
menjadi manusiawi,secara paradoksal bisa membuat Anda jauh
lebih bahagia dan menjadi pribadi yang lebih produktif.
Kesempurnaan Lawan Kepuasan
Jika Anda seorang perfeksionis yang keterlaluan,mungkin Anda
akan sulit mempercayai bahwa Anda bisa menikmati hidup sampai
tingkat maksimum atau mendapat kebahagiaan sejati tanpa
mengejar kesempurnaan.
Anda boleh menguji pendapat ini.DI atas sehelai kertas,daftarlah
kegiatan sebanyak-banyaknya seperti memangkas
rumput,menyiapkan makanan,menulis laporan kerja,dan
sebagainya.
Catatlah kepuasan sesungguhnya yang Anda peroleh dari setiap
kegiatan dengan memberi nilai dari 0 sampai 100 persen.Saya
menyebut ini Lembar Antiperfeksionisme.Ini akan membantu
Anda menghancurkan hubungan khayal antara kesepurnaan dan
kepuasan
Beginilah cara kerjanya:Seorang dokter yang saya kenal merasa
yakin bahwa dia harus sempurna sepanjang waktu.Tidak peduli
berapa banyak yang dihasilkannya dia selalu meningkatkan
standarnya sedikit lebih tinggi dan kemudian dia merasa tidak
puas.
Saya membujuknya untuk melakukan penelitian terhadap suasana
hati dan hasil yang diraihnya,menggunakan Lembar
Antiperfeksionisme.Pada suatu akhir pekan sebatang pipa pecah di
rumahnya dan air membanjiri dapurnya.
Dia memerlukan waktu lama,tetapi akhirnya berhasil
menghentikan kebocoran.Karena dia tidak begitu pandai dalam
soal-soal seperti itu,dia memerlukan waktu lama dan bimbingan
dan seorang tetangga,dan dia mencatat nilai kemampuannya hanya
20 persen.Sebaliknya,dia menilai tingkat kepuasannya dalam
menyelesaikan pekerjaan itu sampai 99 persen.
Padahal hanya sedikit kepuasan yang diperolehnya dari beberapa
bagian yang dinilai sebagai hasil karya yang menonjol.
Pengalaman dengan Lembar Antiperfeksionisme ini
menyadarkannya bahwa tidak harus sempurna dalam sesuatu untuk
bisa menikmatinya.
Lebih lanjut,berusaha mati-matian mencapai kesempurnaan dan
mencapai prestasi luat biasa tidak menjamin diperolehnya
kebahagiaan,tetapi bahkan cenderung berhubungan dengan
kepuasan yang lebih kecil.
Dia menyimpulkan bahwa dia bisa melepaskan dorongan untuk
mencapai kesempurnaan,dan hanya merasa puas dengan kehidupan
yang menggembirakan dan dengan produktivitas tinggi,atau
memegang teguh perfeksionisme dengan akibat merasakan
penderitaan emosional dan mencapai produktivitas rendah.Mana
yang Anda pilih?
BISA MEMEROSOTKAN KEMAMPUAN DAN MENGHAMBAT
KEBERHASILAN.SEORANG PSIKIATER MEMAPARKAN
BAGAIMANA CARANYA MENGATASI KEBIASAAN YANG
MERUGIKAN DIRI SENDIRI INI.
SEBAGAI bagian sebuah studi tentang produktivitas dan
kesehatan emosional,belum lama ini saya mengajukan rangkaian
pertanyaaan kepada satu kelompok tes terdiri dari 150 orang
salesmen dengan pendapatan tahunan yang berkisar dari $10.000
sampai $150.000.
Kira-kira sebanyak 40 persen dari mereka terbukti merupakan
kaum perfeksionis.bisa di duga,kelompok ini merasa berada di
bawah stress yang lebih besar daripada sesamanya yang bukan
perfeksionis.
Apakah mereka juga lebih berhasil?Sungguh
mengherankan,jawabannya adalah tidak,Sementara kaum
perfeksionis mengalami jauh lebih banyak kegelisahan dan tekanan
jiwa dalam hidup mereka,sedikit pun tidak ada bukti bahwa
mereka memperoleh uang lebih banyak.
Pada kenyataannya,rasa putus asa dan tekanan yang kerap kali
menganggu kaum perfeksionis bisa menyebabkan merosotnya
kreativitas dan produktivitas.
Sebuah penelitian oleh ahli-ahli psikologi di Universitas Negara
bagian Pennsylvania menemukan bahwa para atlet yang memenuhi
syarat untuk menjadi peserta Olimpiade kurang bernafsu
menetapkan standar perfeksionis kalau dibandingkan dengan
mereka yang gagal.
Para atlet yang berhasil cenderung tidak menganggap penting
kegagalan prestasi mereka di masa lalu,sementara lain-lainnya
lebih memacu diri sendiri sampai ke tingkat hampir panic dalam
pertandingan.
Apa yang saya maksudkan dengan perfeksionisme?Saya tidak
bicara tentang pengejaran secara sehat terhadap prestasi
memuaskan oleh orang-orang yang suka menikmati standar yang
tinggi.
Tanpa mengindahkan kualitas,keberhasilan yang sesungguhnya
akan merupakan barang langka.Kaum perfeksionis adalah orangorang
yang berusaha mati-matian mencapai sasaran kesempurnaan
yang mustahil,dan mengukur nilai diri mereka hanya mengikuti
keberhasilan mereka saja.
Akibatnya,mereka merasa ngeri menghadapi kemungkinan
gagal.Mereka merasa dikejar-kejar,dan pada saat yang sama tidak
merasa mendapat imbalan dari hasil yang mereka capai.
Seorang guru besar sejarah yang merasa tertekan secara kronis
belum lama ini mengatakan kepada saya,”Tanpa perfeksionis yang
saya miliki,saya hanya merupakan seorang yang setengah
matang.Uh! Siapa yang ingin menjadi orang kebanyakan?”Orang
ini melihat perfeksionisme yang dipegangnya erat-erat sebagai
harga yang harus dibayarnya untuk mencapai sukses.
Dia merasa yakin standarnya yang tak kenal ampun memacunya ke
tingkat nilai tinggi yang tidak dapat dicapainya dengan cara
lain.Padahal kenyataannya di dibuat begitu tidak berdaya oleh rasa
takut gagal sehingga produktivitasnya jauh di bawah yang
dihasilkan oleh rekan-rekannya.
Pernyataan bahwa kaum perfeksionis akan bisa berhasil walaupun
mereka menetapkan standar yang tinggi,bukan karena hal itu,mulamula
dianggap oleh kebanyakan perfeksionis sebagai hal yang
tidak realistis.
Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa perfeksionisme yang
keterlaluan bukan hanya tidak sehat,menimbulkan kekacauan jiwa
seperti merasa tertekan,kegelisahan dan stres,tetapi juga merugikan
diri sendiri,dalam hal produktivitas,hubungan pribadi dan penilaian
diri sendiri.
Kita perlu meninjau mengapa kaum perfeksionis bagitu rentan
terhadap kekalutan emosi dan cacatnya produktivitas.Salah satu
alasannya adalah karena kaum perfeksionis memikirkan kehidupan
dengan sikap yang tidak logis dan salah bentuk.
Barangkali distorsi (salah bentuk) yang umum terdapat di kalangan
kaum perfeksionis adalah cara berpikir semua atau tidak sama
sekali.
Seorang mahasiswa A yang dikalahkan oleh B dalam ujian
menyamakannya dengan kegagalan.Cara berpikir ini
menyebabkan dan bereaksi yang melampaui batas terhadap
ketakutannya ini.
Distorsi umum lainnya adalah keyakinan bahwa peristiwa negatif
akan terulang tak ada habis-habisnya:”Saya tidak akan bisa
melakukan ini dengan benar.
”Dan bukannya bertanya kepada diri sendiri bagaimana dia bisa
belajar dari kesalahan,kaum perfeksionis menyesali diri
sendiri:”Seharusnya aku tidak bertindak setolol itu!Aku tidak
boleh”ini menciptakan frustasi dan rasa bersalah,yang ironisnya
menyebabkan dia terpaku pada kesalahan tersebut.
Dia terjebak dalam apa yang disebut oleh professor Universitas
Negara Bagian Pennsylvania,Michael Mahoney,sebagai sindroma
“Orang Kudus atau Pendosa”
Sindroma ini bekerja sebagai berikut:jika seorang perfeksionis
memulai,katakanlah suatu diet,dia mengatakan kepada diri sendiri
bahwa dia harus menjalani diet ini atau tidak sama sekali,yang
diperikannya dalam pengertian yang sangat ketat.
Selama dia menjalani diet,dia merasa bahagia.Inilah periode
“orang kudus”.Pertama kalinya dia gagal mengikuti ketentuan
rutin,kemungkinan untuk diet secara sempurna pun hilang;ini
menyebabkan dimulainya periode “dosa”.
Sebagai contoh,kalau pelaku diet makan satu sendok,kemudian dia
menjadi kalut oleh bukti “kegagalan”ini sehingga dia lalu
memakan eskrim semangkuk penuh!
Akhirnya,ternyata banyak perfeksionis dirongrong oleh rasa
kesepian dan gangguan dalam hubungan pribadi.Karena kaum
perfeksionis takut dan memperkirakan penolakan kalau mereka
dinilai tidak sempurna,mereka cenderung untuk bereaksi secara
defensif terhadap kritik dan juga dia suka menilai dan melontarkan
kritik kepada orang lain.Ini biasanya menimbulkan frustasi dan
menyebabkan timbulnya kebencian,dan semakin menambah rasa
takut kaum perfeksionis.
Untuk membantu kaum perfeksionis mengatasi kebiasaan mental
ini,saya mula-mula meminta mereka mendatar keuntungan dan
kerugian usaha untuk menjadi sempurna.Seorang mahasiswa
hokum yang dating minta bantuan kepada saya hanya bisa
mencatat satu keuntungan:”Kadang-kadang itu bisa menghasilkan
kerja yang bagus.”
Kemudian dia mendaftar enam kerugian perfeksionise:”
Satu,itu membuat saya tegang dan gelisah sehingga kadangkadang
bahkan tidak bisa menghasilkan pekerjaan yang sekedar
cukup memadai sekalipun.
Dua,saya sering tidak berani menghadapi risiko yang perlu untuk
menghasilkan karya yang kreatif.
Tiga,itu menghalangi saya mencoba hal-hal baru.
Empat,itu membuat saya suka mencela.diri sendiri dan
menyebabkan saya tidak bisa menikmati kegembiraan hidup.
Lima,saya tidak pernah bisa santai karena saya selalu menemukan
sesuatu yang tidak pernah sempurna.
Enam,ini membuat saya tidak toleran kepada orang lain,dan
akhirnya saya dicap sebagai pencari kesalahan.”
Berdasarkan analisis untung-rugi ini,dia menyimpulkan bahwa
hidup mungkin akan memberi lebih banyak imbalan ada lebih
produktif tanpa perfeksionisme yang dimilikinya.
Juga akan menolong kalau kita hanya mengincar hasil yang
”baik”,bukan yang ”terbaik”.Reaksi yang khas adalah rasa
tebal.Tetapi kemudian saya menjelaskan bahwa karena prestasi
”terbaik”seseorang dalam kegiatan apa pun hanya bisa diraih satu
kali seumur hidup,mengincar hasil terbaik sepanjang waktu bisa
dijamin akan mendatangkan kegagalan.
Sebaliknya,jika sasaran Anda realistis,Anda kerap kali akan
merasa lebih kreatif dan produktif.Saya tidak menyarankan agar
Anda bermalas-malas,tetapi Anda akan mendapatkan bahwa Anda
akan memperoleh hasil yang bagus dengan prestasi yang cukup
baik,bukannya mengincar masterpiece yang menimbulkan stres.
Strategi ini terbukti bermanfaat bagi saya ketika saya menulis
untuk jurnal pendidikan dan terhalang oleh hambatan
penulisan.”Ini harus jadi hasil karya yang menonjol,”kaya saya
kepada diri sendiri setiap kali duduk untuk menyiapkan
konsep.Kemudian saya bersusah payah menyusun kalimat pertama
sampai akhirnya menyerah dengan rasa sebal.
Tetapi ketika saya mengatakan kepada diri sendiri,”Saya akan
membuat konsep asal-asalan saja,”ternyata hambatan berkurang
dan hasil yang saya capai jauh lebih baik.
Lebih dari itu,saya terkejut oleh kenyataan bahwa kualitas
penulisan saya meningkat setelah saya tidak berusaha terlalu keras
untuk membuat kagum orang lain.
Jika Anda seorang perfeksionis yang keterlaluan,tidak diragukan
lagi Anda pasti hebat dalam hal memusatkan perhatian terhadap
kekurangan-kekurangan Anda.
Anda melewatkan hidup Anda dengan mendaftar semua kesalahan
dan kekurangan Anda.Inilah cara sederhana yang bisa membantu
Anda membalik kecenderungan yang menyakitkan ini.Daftarlah
hal-hal yang Anda lakukan secara benar setiap hari.
Lihat berapa banyak nilai yang Anda kumpulkan.Mungkin ini
kedengaran begitu kuno sehingga Anda yakin ini tidak bisa
membantu Anda.
Jika demikian,lakukanlah eksperimen ini selama dua minggu.Saya
meramalkan Anda akan mendapatkan bahwa Anda akan mulai
lebih banyak memusatkan perhatian pada segi positif dalam hidup
Anda dan akibatnya akan merasa lebih baik mengenai diri Anda.
Cara lain yang menolong melibatkan pemaparan absurditas dalam
cara pemikiran semua atau tidak sama sekali,yang meningkatkan
perfeksionisme Anda,Lihatlah berkeliling dan tanyakan kepada diri
sendiri berapa banyak hal di dunia ini yang bisa dipecah-pecah
dalam kategori semua atau tidak sama sekali.
Apakah dinding di sekitar Anda bersih seratus persen?Ataukah
dinding itu punya sedikit kotoran?Apakah bintang film kesayangan
Anda sempurna kecantikannya?Apakah Anda kenal dengan
seseorang yang benar-benar tenang dan percaya diri sepanjang
waktu?Segala-galanya bisa ditingkatkan kalau Anda melihatnya
dengan pandangan cukup kritis – setiap orang,setiap gagasan,setiap
karya seni,setiap pengalaman.Jadi belajarlah mengenali cara
berpikir ”semua atau tidak sama sekali”seperti apa adanya:sikap
yang merugikan diri sendiri dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Akhirnya,Anda bisa memerangi perfeksionisme dengan bertanya
kepada diri sendiri,”Apa yang bisa saya pelajari dari kesalahan
saya?”Sebagai eksperimen,pikirkanlah suatu kesalahan yang telah
Anda buat dan tuliskan segala hal yang dapat Anda pelajari dari
kesalahan itu.
Jangan lepaskan hak Anda untuk berbuat kesalahan,sebab kalau
demikian Anda akan kehilangan kemampuan untuk mempelajari
hal-hal baru dan mendapat kemajuan dalam hidup.
Jangan lupa bahwa rasa takut selalu bersembunyi di belakang
perfeksionisme.Bagaimanapun juga ada harga yang harus dibayar
dalam berusaha mencapai kesempurnaan;ini melindungi Anda dari
keharusan menghadapi risiko kena kritik,kegagalan atau tidak
mendapatkan persetujuan.
Tetapi hal ini juga menghalangi hidup secara lebih
penuh.Menghadapi rasa takut dan memberi Anda hak untuk
menjadi manusiawi,secara paradoksal bisa membuat Anda jauh
lebih bahagia dan menjadi pribadi yang lebih produktif.
Kesempurnaan Lawan Kepuasan
Jika Anda seorang perfeksionis yang keterlaluan,mungkin Anda
akan sulit mempercayai bahwa Anda bisa menikmati hidup sampai
tingkat maksimum atau mendapat kebahagiaan sejati tanpa
mengejar kesempurnaan.
Anda boleh menguji pendapat ini.DI atas sehelai kertas,daftarlah
kegiatan sebanyak-banyaknya seperti memangkas
rumput,menyiapkan makanan,menulis laporan kerja,dan
sebagainya.
Catatlah kepuasan sesungguhnya yang Anda peroleh dari setiap
kegiatan dengan memberi nilai dari 0 sampai 100 persen.Saya
menyebut ini Lembar Antiperfeksionisme.Ini akan membantu
Anda menghancurkan hubungan khayal antara kesepurnaan dan
kepuasan
Beginilah cara kerjanya:Seorang dokter yang saya kenal merasa
yakin bahwa dia harus sempurna sepanjang waktu.Tidak peduli
berapa banyak yang dihasilkannya dia selalu meningkatkan
standarnya sedikit lebih tinggi dan kemudian dia merasa tidak
puas.
Saya membujuknya untuk melakukan penelitian terhadap suasana
hati dan hasil yang diraihnya,menggunakan Lembar
Antiperfeksionisme.Pada suatu akhir pekan sebatang pipa pecah di
rumahnya dan air membanjiri dapurnya.
Dia memerlukan waktu lama,tetapi akhirnya berhasil
menghentikan kebocoran.Karena dia tidak begitu pandai dalam
soal-soal seperti itu,dia memerlukan waktu lama dan bimbingan
dan seorang tetangga,dan dia mencatat nilai kemampuannya hanya
20 persen.Sebaliknya,dia menilai tingkat kepuasannya dalam
menyelesaikan pekerjaan itu sampai 99 persen.
Padahal hanya sedikit kepuasan yang diperolehnya dari beberapa
bagian yang dinilai sebagai hasil karya yang menonjol.
Pengalaman dengan Lembar Antiperfeksionisme ini
menyadarkannya bahwa tidak harus sempurna dalam sesuatu untuk
bisa menikmatinya.
Lebih lanjut,berusaha mati-matian mencapai kesempurnaan dan
mencapai prestasi luat biasa tidak menjamin diperolehnya
kebahagiaan,tetapi bahkan cenderung berhubungan dengan
kepuasan yang lebih kecil.
Dia menyimpulkan bahwa dia bisa melepaskan dorongan untuk
mencapai kesempurnaan,dan hanya merasa puas dengan kehidupan
yang menggembirakan dan dengan produktivitas tinggi,atau
memegang teguh perfeksionisme dengan akibat merasakan
penderitaan emosional dan mencapai produktivitas rendah.Mana
yang Anda pilih?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar